Daftar Isi Web Ini : Katalog Amp Accos 319 produk China berlabel Austria … Web ini dibuat oleh Teknisi dan Analis Lab Setelah Melakukan Uji Fungsi Alkes … Isi tulisan web Ini Semata Mata berdasarkan dasar ilmiah Lab dan bukan Fitnah

Artikel : April 2011

Harga 1 unit Mindray BC 3000 pada bulan April 2011 adalah rp. 75 juta

.

produk tensimeter kita diekspor ke Jerman untuk dikasih merek asing lalu masuk lagi ke pasar domestik sebagai produk impor. Ini sangat lucu

.

Banyaknya pemasok itu cukup menguntungkan, terutama dari segi harga maupun ragam pilihan. Tapi kemudian, mutu dari peralatan-peralatan itu pun menjadi beragam pula, yang akhirnya memunculkan problem. ”Masih ada peralatan yang belum memenuhi standar,”

.

Usut Dugaan Korupsi Pengadaan Alkes 2009 di Dinkes Taput

.

Website Resmi Pemko KUPANG : (http://kotakupang.com/webkota/content/view/535/27/lang,id/) menyatakan : “PENGADAAN ALKES DI RSU KOTA KUPANG BERMASALAH”

.

Harga Reagen Hematologi Analyzer Mindray BC2800 bulan April 2011

.

Harga 1 unit Mindray BC-2300 adalah rp.62.250.000, – ( nego) pada bulan April 2011

.

http://www.tirtamedicalindonesia.com menjual Mindray BC 3000 alias AMP ACCOS 319 >>> Barang China berlabel EROPA (lisensi)

.

Harga 1 Unit Mindray BC-2800 / BC – 2600 bulan April 2011 adalah Rp 86, 000, 000.- boleh nego !!!

.

Produksi cina relatif jauh lebih murah dibanding produk Eropa,Amerika dan jepang. Dan kualitasnyapun jelas lebih rendah karena menyangkut teknologi, material,dll.

.

waspadai ALKES china atau india berlisensi EROPA… Tampang Eropa padahal buatan China dan india

.

Artikel : Maret  2011

Kelemahan Hematology Analyzer China adalah ketahanan, kehandalan dan hasilnya lemah

.

Jangan terpengaruh dengan lisensi AMP, karena AMP ACCOS 319 dan AMP Piccos 05 merupakan dua buah “produk gagal” dari AMP Austria

.

Harga 1 Unit AMP ACCOS 319 Pada Tahun 2007 adalah rp.60 – rp. 70 juta

.

AMP Accos 319 merupakan hematology analyzer produksi China (Mindray BC 3000 PLUS) tetapi berlabel Eropa, dalam artian barang ini di buat di China tetapi memiliki lisensi AMP Austria

.

Mengacu kepada Surat Edaran Inspektur Jenderal Departemen Kesehatan RI Nomor 01T.PS.20.01.214.06.458a tanggal 25 April 2006 perihal Pengadaan Alat Kesehatan, produk buatan China seperti ”Hematology Analyzer” dan ”Refrigerator” hanya diberikan poin maksimal sebesar 25, jadi nilai teknis bukan 38

.

Hematology Analyzer dan Alat Kimia Klinik produksi China dan India relatif jauh lebih murah dibandingkan produk Amerika, eropa dan Jepang akan tetapi kualitas nya pun jelas lebih rendah karena menyangkut teknologi, material dll

.

Pengadaan Alkes di RSU Kota Kupang Tak Sesuai Mutu karena merupakan barang produk China

.

Harga 1 unit Mindray BC 3000 pada bulan April 2011 adalah rp. 75 juta

Harga 1 unit Mindray  BC 3000  pada bulan April  2011  adalah rp. 75 juta (net)

hubungi :
+62816519250
CV. Karya Cipta Bersaudara
————————————————————————————————————–
.
Selamat Datang di

CV. Karya Cipta Bersaudara
Hematologi Analyzer Mindray BC2800

(Gambar)

Katalog Produk:

Hematologi Analyzer Mindray BC2800

Negara Asal: China
Harga: Nego
Kemas & Pengiriman: Unit
Keterangan: Alat pemeriksaan Hematologi analyzer .
Kami juga menyediakan reagennya dengan harga bersaing :

1. Diluent 20 liter = Rp.1.180.000, –
2. Rinse 20 liter = Rp.1.180.000, –
3. Lyse 500 ml = Rp.1.188.000, –
4. EZ-Cleanser 100ml = Rp.543.000, –
5. Probe Cleanser 17ml = Rp.52.000, –

Harga diatas franco Surabaya.

 

Korespondensi Perusahaan
Nama: Tn. Yudi Susanto [Direktur/CEO/Manajer Umum]
E-mail: yudi_susanto17@yahoo.co.id
Nomer HP: +62816519250 / +6281230776298
Nomer Telpon: +62317880207
Nomer Faks: +62317880207
Alamat: Perum Griya Bhayangkara F-16 Masangankulon Sukodono
Sidoarjo, Jawa Timur
Indonesia
======================================================

produk tensimeter kita diekspor ke Jerman untuk dikasih merek asing lalu masuk lagi ke pasar domestik sebagai produk impor. Ini sangat lucu

dikutip dari : http://www.ipmg-online.com/index.php?modul=berita&cat=BMedia&textid=283310275423

Berita
Alat kesehatan impor dominasi pasar
Yusuf Waluyo Jati, Bisnis Indonesia 16 Juli 2009
JAKARTA: Sebanyak 99% dari total omzet Rp25,74 triliun alat kesehatan (alkes) di pasar domestik pada tahun lalu dikuasai produk impor.

Penguasaan pasar dari industri lokal tidak lebih dari Rp260 miliar, atau hanya 1% dari total omzet.

Penguasaan pangsa pasar lokal yang nyaris nol itu ternyata berlangsung konsisten setidaknya dalam 5 tahun terakhir. Akibatnya, kinerja industri peralatan kesehatan lokal hampir tidak mengalami pertumbuhan. Dalam kurun waktu tersebut, nyaris tidak ada tambahan investasi di sektor ini.
“Beberapa investor asing yang sudah terlanjur menanamkan modalnya bahkan memilih hengkang atau beralih usaha menjadi importir karena iklim bisnis di dalam negeri dinilai sangat tidak kondusif,” kata Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) Indonesia Titah Sihdjati Riadhie, kemarin.

Menurut dia, besarnya nilai impor itu disebabkan oleh pemerintah tidak memberikan dukungan terhadap pertumbuhan industri di dalam negeri. Dia mengungkapkan dari total pasar alat kesehatan domestik, sekitar 80% di antaranya berasal dari belanja pemerintah (government procurement), selebihnya dari sektor swasta.

“Besarnya belanja pemerintah membuat industri peralatan kesehatan memiliki ketergantungan yang besar sehingga cenderung didikte. Pada saat yang sama, Departemen Kesehatan lebih mengutamakan menggunakan produk impor,” ujarnya.

Dari sekitar 1.500 perusahaan anggota Gakeslab, katanya, hanya 5% [75 anggota] yang memiliki pabrik sendiri dan hanya 1% anggota yang punya pabrik berbasis elektronik,” ungkapnya.

Kesulitan menggarap pasar domestik menyebabkan industri lokal berupaya mencari peluang di pasar ekspor. Sejauh ini, katanya, Indonesia hanya bisa mengekspor alat kesehatan berbasis nonelektrik seperti tensimeter, stetoskop, dan furnitur kesehatan seperti tempat tidur dan kasur.

Pada tahun ini, industri lokal telah mampu memproduksi alat kesehatan berbasis elektrik, tetapi baru berupa infant incubator, dental unit, dan wheel chair electric, yang teknologinya relatif sederhana.

“Ironisnya, produk tensimeter kita diekspor ke Jerman untuk dikasih merek asing lalu masuk lagi ke pasar domestik sebagai produk impor. Ini sangat lucu,” ujarnya.

Tidak berpihak

Titah menilai keberpihakan dan perhatian Depkes terhadap pengembangan industri peralatan kesehatan domestik sangat rendah terutama dalam hal penyerapan produk lokal, perizinan, sertifikasi, dan standar mutu.

Dari komposisi tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang dipersyaratkan sebesar 40%, ungkapnya, PT Surveyor dan Departemen Perindustrian menyatakan beberapa perusahaan peralatan kesehatan lokal telah memiliki kandungan komponen lokal hingga 57%.

Sayangnya, syarat TKDN ini tidak digubris oleh Depkes dalam setiap tender pengadaan barang dan jasa di bidang kesehatan. “Mereka semaunya sendiri. Meskipun sudah ada Peraturan Presiden (PP) No. 2/2009 tentang TKDN, mereka tidak mau tahu dan tetap memilih produk impor. Jadi, komitmen antiasing yang dikatakan Bu Menkes [Siti Fadilah Supari] ternyata hanya sebatas slogan,” paparnya.

Ketika dikonfirmasi Menkes Siti Fadilah Supari membantah instansinya tidak memprioritaskan industri lokal dalam setiap pengadaan barang dan jasa alat-alat kesehatan. “Ya tidak mungkin,” tulis Menkes dalam pesan singkatnya kepada Bisnis.

Malahan, lanjut Titah, berdasarkan penelusuran Gakeslab, Depkes hingga sekarang masih mengizinkan importasi alat-alat kesehatan bekas dari Amerika Serikat, Belanda dan negara-negara di kawasan Uni Eropa.

“Seluruh rumah sakit terkenal di Indonesia kami pastikan tidak ada yang tidak menggunakan alat kesehatan bekas,” ungkapnya.

Di luar negeri, katanya, alat-alat bekas tersebut sudah dipakai sekitar 5 tahun. Barang tersebut direkondisi sebelum diekspor ke Indonesia.

Terkait dengan hal ini, Menkes berdalih selama masa kepemimpinannya, Depkes tidak pernah memberikan izin impor peralatan kesehatan bekas. “Tidak pernah tuh selama saya di sini [Depkes],” katanya.

Titah menambahkan besarnya impor dan kecilnya penguasaan industri peralatan kesehatan lokal, mengakibatkan penetapan harga dalam setiap tender tidak transparan. “Ada beberapa pejabat Depkes yang justru masih suka main dropping barang dari China. Dalihnya sih sebagaigrant [hibah], tetapi masih ada bukti nota yang diteken,” katanya.

Rendahnya produksi, lanjutnya, menyebabkan struktur industri peralatan kesehatan sangat lemah dan tidak mampu bersaing dengan barang impor. Beberapa perusahaan anggota Gakeslab seperti PT MARK (produsen tempat tidur kesehatan di Yogyakarta) dan PT Trovi Rajawali (PMA asal Prancis) bahkan akhirnya menutup usahanya. “Di antara mereka ada yang beralih bisnis sepeda motor,” katanya. (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

 

Banyaknya pemasok itu cukup menguntungkan, terutama dari segi harga maupun ragam pilihan. Tapi kemudian, mutu dari peralatan-peralatan itu pun menjadi beragam pula, yang akhirnya memunculkan problem. ”Masih ada peralatan yang belum memenuhi standar,”

sumber : http://global-alkes.blogspot.com/2007/09/membeli-alat-medis-pun-perlu-diuji-mutu.html

Membeli Alat Medis Pun Perlu Diuji Mutu

Alat Medis Pun Perlu Diuji Mutu

Peralatan medis kebanyakan diimpor dari Eropa, Jepang, Cina, dan Amerika Serikat.

Perlengkapan dan alat medis semisal X-Ray, CT-Scan, PET, USG, EEC, EMG, MRI, vital sign monitor, dan lainnya, kini telah menjadi standar yang dimiliki sebagian rumah sakit. Dengan alat-alat tersebut, tiap hari ribuan orang melakukan pemeriksaan kesehatan baik untuk keperluan general check-up maupun terapi pengobatan.

Jika diperhatikan, hampir sebagian besar penyakit akan melalui diagnosis maupun pengobatan yang ditopang oleh peralatan medis tadi. Dengan kata lain, penggunaan peralatan itu dalam membantu bidang kedokteran dewasa ini dinilai amat penting. Maka, mengingat peran strategisnya, Hal-hal ini pada akhirnya juga akan dapat meningkatkan kualitas pemeriksaan pasien. Demikian pulalah tujuan dari program pengujian mutu terhadap peralatan medis yang saat ini mulai digencarkan. Ini memang belum terlalu menonjol, lantaran sistem mutu dan program jaminan mutu alat medis masih belum banyak diterapkan di rumah sakit-rumah sakit di Indonesia.

Bukan tanpa sebab uji mutu harus dilakukan. Menurut penjelasan Kepala Bidang Teknologi Rekayasa Biomedia BPPT, Pratondo Busono PhD, kini sejumlah rumah sakit dan klinik di Indonesia kerap mendatangkan peralatan medis dari berbagai merek, model, dan variasi life time.

”Kebanyakan diimpor dari Eropa, Jepang, Cina, dan Amerika Serikat,” kata dia di sela acara Semiloka Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian Peralatan Medis, Rabu (13/12) di Jakarta. Banyaknya pemasok itu cukup menguntungkan, terutama dari segi harga maupun ragam pilihan. Tapi kemudian, mutu dari peralatan-peralatan itu pun menjadi beragam pula, yang akhirnya memunculkan problem. ”Masih ada peralatan yang belum memenuhi standar,” ungkap Pratondo.

Sinyalemen tersebut bisa jadi terkait dengan pertanyaan, apakah peralatan tadi sudah dioperasikan sesuai standar dan memberikan hasil yang valid dan akurat. Ini mengingat perlakuan terhadap alat dari satu pemakai ke pemakai lain tidaklah sama. Sehingga, pemeriksaan serta pengukuran bisa saja memberikan hasil yang berbeda. Di sinilah pentingnya ada uji standar.

Di bidang alat medis, selama ini dikenal adanya standar yang telah ditetapkan secara nasional antara lain oleh BSN, maupun internasional. Di dalam negeri, untuk uji mutu, biasanya dilakukan di laboratorium BPFK-Depkes, LIPI, Batan, Bapeten, dan laboratorium milik universitas maupun swasta.

Hal yang sama juga sedang dipersiapkan BPPT. Pihaknya, lanjut Pratondo, akan membangun laboratorium uji, akan tetapi sebelum sampai tahap pelaksaaan, disyaratkan harus memiliki akreditasi lebih dulu. ”Kita sedang dalam proses mengajukan akreditasi. Nantinya, kita akan bisa melakukan uji terhadap peralatan USG, dopler USG, X-Ray radiography, dan mammography,” tambahnya.

Dia menjelaskan bahwa metode dan teknik pengujian alat-alat itu berbeda-beda, tergantung dari jenis alatnya. Namun, secara garis besar, ada tiga tahap pengujian. Tahap pertama yakni frequent quality assurance testing, kedua, semi annual or annual quality assurance testing, dan ketiga acceptance testing or baseline setup. Alat ujinya sendiri cukup beragam, mulai dari thermo hygrometer, electrical safety analyzer, multimeter, avometer, multi function meter, KV meter, dan lain-lain.

Kepala Pusat Sarana, Prasarana, dan Peralatan Kesehatan Depkes RI, Tugojono, mengatakan bahwa pihaknya telah menggariskan setiap lembaga kesehatan harus membuat proses guna memastikan pemantauan dan pengukuran dikerjakan dengan konsisten sesuai persyaratan. ”Jika diperlukan, untuk memastikan kevalidan hasil, perlengkapan itu harus dikalibrasi atau diverifikasi pada selang waktu tertentu atau sebelum dipakai,” paparnya.

Di samping itu, untuk menjamin keandalan peralatan, pihak rumah sakit harus senantiasa memonitor batas ambang keselamatan dan kriteria unjuk kerja alat. ”Tak kalah penting, bagaimana menjamin tersedianya operator yang terlatih dan tersertifikasi,” imbuhnya. Untuk pihak rumah sakit, uji mutu diharapkan dapat lebih meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien. Sebab bukan rahasia lagi, tandas Ketua Persatuan Rumah Sakit se-Indonesia (Persi), Adib Abdullah Yahya, di era global kini, banyak pasien yang memilih berobat ke luar negeri.

Belum lagi dengan mulai masuknya jaringan rumah sakit dan tim dokter asing ke Indonesia, yang bila tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas, bisa berpengaruh terhadap daya saing. ”Tapi, perlu diingat, mutu saja tidak cukup, harus ada jaminan keamanan bagi pasien,” tegas Adib.

Pada beberapa tahun belakangan memang dirasakan, tuntutan masyarakat di bidang kesehatan akan kualitas, transparansi, dan keamanan, semakin tinggi. Karenanya, untuk dapat memenuhi harapan tersebut, mau tak mau membutuhkan kesiapan semua aspek di tiap rumah sakit, termasuk peralatan yang digunakan.

Usut Dugaan Korupsi Pengadaan Alkes 2009 di Dinkes Taput

Media, Indonesia, berita Indonesia, foto Indonesia, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik, rss feed, galeri foto,medan kini,terkini,medan, sumatera utara,sumut,nasional,ekonomi,sosial,budaya
Jum’at, 08 April 2011
HOME HUKUM & KRIMINAL
Rabu, 11 Agustus 2010 | 21:25:01
Usut Dugaan Korupsi Pengadaan Alkes 2009 di Dinkes Taput 

TARUTUNG (EKSPOSnews): Pemerintah Tapnuli Utara melalui Dinas Kesehatan Tapanuli Utara melakukan pengadaan alat kesehatan (Alkes) pada Tahun Anggaran 2009 sebesar Rp8,7 miliar yang di duga ada indikasi korupsi dengan cara memark-up harga mencapai 400%-500% dari harga alat kesehatan tersebut ,Hal tersebut di katakan oleh Dompak Hutasoit selaku Sekretaris Indonesia Corruption Fighting (ICF) kepada wartawan  di Tarutung Rabu 11 Agustus 2010. 

Dompak menjelaskan,kita telah menelusuri dan bahkan sudah melihat semua pengadaan  Alat Kesehatan (Alkes) tersebut, banyak kejanggalan  dalam alat kesehatan itu, seperti, merk barang, dan buatan negara mana, sehingga menguatkan kami adanya dugaan korupsi dalam harga barang yakni,dalam surat penyerahan Alat Kesehatan (Alkes) ke setiap Puskesmas, bahwa barang tersebut tertera dalam surat bermerek buatan China, ternya fisik barang adalah merek Taiwan, itu tertera dalam alat kesehatan cek gula, alat cek colesterol dan alat cek asam urat yang di kemas dalam tiga macam dalam satu kotak dengan nama Nesco Multicheck Made in Taiwan.

Lanjut Dompak, kita telah melakukan penelusuran harga,bahwa harga barang tersebut dalam satu kemasan/kotak dengan Multicheck Rp2,000.000,kalau per unit,untuk harga alat cek kolesterol Rp350.000, alat cek gula  Rp325.000 dan untuk cek asam urat Rp1.250.000. Berdasarkan hasil penelusuran harga dan merek barang dan buatan negara, ada dugaan korupsi dalam pengadaan alat kesehatan tersebut dengan cara memark-up harga.

Untuk pengadaan barang haruslah ada salinan izin Penyaluran alat kesehatan yang menunjuk legalisir oleh Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan dan juga Izin berlaku selama masih aktif dan memenuhi persyaratan pedoman distribusi alat kesehatan yang baik dipersyaratkan atau dapat ditentukan lain oleh daerah. Masih aktif dan memenuhi persyaratan pedoman penyalur Alkes yang baik harus dapat dibuktikan dengan laporan kegiatan perusahaan selama 1 (satu) tahun terakhir dan hasil pemeriksaan terhadap sarana minimal 1 (satu) tahun sekali untuk membuktikan masih memenuhi persyaratan cara distribusi Alkes yang baik, dan yang diharapkan saat ini dari Dinas Kesehatan Tapnuli Utara sebelum menerima alat kesehatan tersebut dari pihak rekanan pemenang tender yakni, Identifikasi bahan alat kesehatan, nama pemasok, tanggal penerimaan, nomor bets asli alat kesehatan, nomor bets produk, nomor pemeriksaan mutu, jumlah yang diterima,tanggal sampling dan hasil pemeriksaan mutu, terang Dompak Hutasoit.

Hal tersebut diutarakan oleh Pengamat Tapanuli Raya, R Hamonangan, mengenai alat kesehatan ini, pemerintah melalui Dinas Kesehatan harus selalu ekstra hati-hati dalam pengadaan Alat Kesehatan (Alkes), sebab di gunakan untuk masyarakat.

“Saat ini banyak dugaan korupsi dalam pengadaan alat kesehatan di tiap Kabupaten, Itu disebabkan adanya perbedaan antara nama alkesnya dan spesifikasi aslinya ,Selain itu, dalam proses pengadaan tender pengadaan barang dan jasanya diduga terjadi persengkokolan antara pejabat pemegang kuasa anggaran (PKA) yakni Kepala Dinas Kesehatan dengan penyedia jasa dalam memenangkan pemenang tender, sehingga terjadi kerugian negara dari kegiatan pengadaan tersebut relatif  besar.”

Dihimbau kepada pihak penegak Hukum,agar mengusut dugaan korupsi pengadaan Alat Kesehatan yang terjadi di Dinas Kesehatan Taput,karena itu suatu tindakan yang merugikan Negara dan pada umumnya merugikan masyarakat karena dana yang digunakan untuk pembelian alat alat tersebut juga dari rakyat .

Kepala Dinas Kesehatan Tapanuli Utara Jumaga Nainggolan saat di hubungi melalui telepon selulernya seputar pengadaan Alat Kesehatan Tahun Anggaran 2009 sebesar  Rp8,7 miliar yang diduga ada keganjilan tidak mengangkat teleponnya demikian juga saat di-SMS  tidak menjawab .

Sekretaris Dinas Kesehatan Tapanuli Utara Ramli Simamora di dampingi Ketua Panitia Lelang/Tender pengadaan alat kesehatan Rudi Siregar saat di jumpai di kantornya seputar adanya kejanggalan  dalam fisik Alat Kesehatan, mengatakan, “memang dalam surat penyerahan barang alat kesehatan ke setiap Puskesmas jelas tertera dalam surat buatan China,tetapi fisik buatan Taiwan,tetapi walau begitu,saya rasa tidak ada temuan dalam pengadaan tersebut, karena yang paling penting asalkan ada Sertifikat Original Perusahaan,” jelas Rudi Siregar

Rudi menambahkan, pengadaan tersebut tidak ada bedanya seperti merek sepeda motor. Contohnya Honda,yang jelas Honda itu buatan Jepang, tetapi sekarang ini merek Honda sudah produksi Taiwan, Jepang saat ini hanya menjual nama atau merek, Begitu juga alat kesehatan ini, China menjual nama produksinya ke Taiwan dan memproduksi secara massal.”Jadi saya rasa tidak ada kejanggalan dalam pengadaan tersebut,” ujar Rudi Siregar .

Sementara itu dari investigasi beberapa wartawan dibeberapa Puskesmas di Kabupaten Tapanuli Utara, beberapa  alat kesehatan tidak memiliki buatan (made)/pabrikan negara mana seperti alat pembakar Jarum Suntik, yang tertera dalam alat tersebut hanya Merk Dr Morton type-B Electrical Needle Destroye tanpa buatan (made) negara mana, Begitu juga alat Cek Asam Urat, Cek Colesterol dan Cek Gula dalam satu paket/Kotak merek Nesco Multicheck buatan (made) Taiwan padahal dalam pengantar buatan China

Website Resmi Pemko KUPANG : (http://kotakupang.com/webkota/content/view/535/27/lang,id/) menyatakan : “PENGADAAN ALKES DI RSU KOTA KUPANG BERMASALAH”

PENGADAAN ALKES DI RSU KOTA KUPANG BERMASALAH Cetak E-mail
Tuesday, 03 August 2010
Kupang, 2/8 (ANTARA) – Pengadaan alat kesehatan (alkes) pada rumah sakit tipe C milik Pemerintah Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga bermasalah karena tidak sesuai dengan standar mutu yang diharapkan. 

Direktur RSU Kota Kupang, dr. Frans C. Homalessy, Sp.AN, di Kupang, Senin mengatakan, sejumlah alat kesehatan yang diperlukan untuk menjadi fasilitas pelayanan kesehatan di rumah sakit nonkelas tersebut, diduga tidak memiliki standar mutu sesuai yang diharapkan, karena merupakan barang produk China.

Dia mengatakan, sejumlah alat kesehatan yang hingga kini belum bisa digunakan kendati rumah sakit yang dibangun untuk memberikan pelayanan bagi pasien warga miskin Kota Kupang itu sudah memulai dengan pelayanan kesehatan rawat jalan, adalah merupakan proyek pengadaan tahun 2009 dengan anggaran sekitar Rp5 miliar.

“Semua alat itu belum bisa kita gunakan di rumah sakit yang sudah memulai pelayanan kesehatan, karena masih dalam masa penyelidikan oleh pihak Insepktorat Daerah Kota Kupang,” kata dia.

Menurut dia, alat-alat kesehatan yang memiliki kualifikasi baik, hanya bisa diperoleh jika alat tersebut merupakan produksi perusahaan yang berasal dari negara Amerika Serikat, Jerman atau negara-negara Eropa lainnya. Sedangkan jika alat-alat kesehatan itu merupakan produksi China, maka kualitasnya sangat berbeda dan jauh dari standar mutu yang diharapkan.

“Saya punya pengalaman di RSU Prof. Dr.WZ Johannes Kupang, alat-alat produksi China biasanya hanya berumur setahun pemakaian, jika dibanding produksi dari negara-negara lainnya. Jika demikian maka sangat merugikan keuangan daerah,” kata mantan staf dokter pada RSU Prof. Dr. WZ Johannes, milik Pemerintah Provinsi NTT itu.

Dia mengakui, sejumlah alat tersebut, saat ini masih belum bisa digunakan karena masih dalam pemeriksaan Inspektorat Darah Kota Kupang, untuk menyesuaikan sepesifikasi alat dengan jumlah barang, harga serta mutu dan kualitas sebagaiman yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Wali Kota Kupang, Daniel Adoe, mengaku sedang melakukan penyelidikan terhadap masalah pengadaan alat kesehatan tersebut melalui Inspektorat Daerah (Irda), untuk mendapatkan kebenaran dari persoalan tersebut.

“Saya sudah perintahkan Irda untuk lakukan investigasi terhadap dugaan penyimpangan tersebut,” kata Adoe.

Kepala Inspektur Daerah Kota Kupang, George Orzon Taulo, mengaku, pihaknya kini sedang melakukan pemerikasaan terhadap sejumlah alat kesehatan pada rumah sakit tipe C milik Pemerintah Kota Kupang tersebut.

“Kita sedang lakukan pemeriksaan. Kita harapkan bisa segera selesai untuk bisa mendapatkan hasil yang sebenarnya,” kata Taulo.

Mantan Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, dr. Dominggus Sarambu, yang merupakan pengendali proyek pengadaan sejumlah alat kesehatan tersebut mengaku, dari semua alat kesehatan pengadaan tahun 2009 yang diperuntukkan bagi rumah sakit tipe C, sudah sesuai sepesifikasi mutu sebagaimana yang telah ditetapkan.

Memang kata Kepala Badan Narkotika Kota Kupang itu, ada satu item alat dari sejumlah alat yang didatangkan merupakan hasil produk China, namun dia menjamin kualitasnya sama dengan alat lain yang diproduksi negara-negara lain.

“Kalau saya tidak salah ingat, alat yang merupakan produksi China yaitu monitor jantung,” kata sarambu.

Namun demikian, Sarambu menegaskan, dirinya siap diperiksa jika Pemerintah Kota memerlukan keterangan, sebagai bagian dari haknya untuk memberikan klarifikasi.

“Saya siap diklarifikasi, untuk melurusakan persoalan ini,” kata Sarambu.

http://kotakupang.com/webkota/content/view/535/27/lang,id/

Harga Reagen Hematologi Analyzer Mindray BC2800 bulan April 2011

.
Selamat Datang di 

CV. Karya Cipta Bersaudara
Hematologi Analyzer Mindray BC2800

(Gambar)

Katalog Produk:

Hematologi Analyzer Mindray BC2800

Negara Asal: China
Harga: Nego
Kemas & Pengiriman: Unit
Keterangan: Alat pemeriksaan Hematologi analyzer  

.
Kami juga menyediakan reagennya dengan harga bersaing :

1. Diluent 20 liter = Rp.1.180.000, –
2. Rinse 20 liter = Rp.1.180.000, –
3. Lyse 500 ml = Rp.1.188.000, –
4. EZ-Cleanser 100ml = Rp.543.000, –
5. Probe Cleanser 17ml = Rp.52.000, –

Harga diatas franco Surabaya.

 

Korespondensi Perusahaan
Nama: Tn. Yudi Susanto [Direktur/CEO/Manajer Umum]
E-mail: yudi_susanto17@yahoo.co.id
Nomer HP: +62816519250 / +6281230776298
Nomer Telpon: +62317880207
Nomer Faks: +62317880207
Alamat: Perum Griya Bhayangkara F-16 Masangankulon Sukodono
Sidoarjo, Jawa Timur
Indonesia
======================================================

Jual Alat Hematologi ( NEW ) merk Mindray

Dijual: Alat Hematlogy Analyzer Merk Mindray BC-2300 

Features:
Semi-automated, compact sized and cost effective
3-part differentiation of WBC, 19 parameters+ 3 histograms
2 counting mode: Whole blood and prediluted
Throughput: 30samples/ hr
Automatic clog removal and automatic recount function
Up to 10, 000 patient results ( including histograms) can be stored
Built in diluter and thermal printer
7. 5″ inch Color LCD display

Standard Configuration:
Main unit
Internal Thermal Recorder
Standard Accessories Kit
Standard Kit of Reagent for Installation

Hanya dijual dengan harga Rp.62.250.000, – ( nego) . Dipasaran harganya sekitar Rp.65jt-an.

Hubungi kami sekarang juga di:

Yuni Rahayu
Darera Alkes
081386515915
021-29092002

Negara Asal: Indonesia
Harga: Rp.62.250.000,-
Cara Pembayaran: Transfer Bank (T/T)
Jumlah: 1 unit
Kemas & Pengiriman: Kardus
Korespondensi Perusahaan
Nama: Ibu Yuni Artadi [Pemilik/Pengusaha]
E-mail: yuni.artadi@yahoo.co.id
Pesan Instan  

Y!: fajar.artadi Y!: fajar.artadi

 

Nomer HP: 6281386515915
Nomer Telpon: 6281386515915, 622194707661
Alamat: Jl. Raya Penggilingan Rt.02/03 No.19 Penggilingan – Cakung
Jakarta Timur 13940, Jakarta
Indonesia

=================================

=================================

HEMATOLOGY ANALIZER

HEMATOLOGY ANALYZER 

Type BC-2800 / BC – 2600
Merk: MINDRAY
Negara asal: CHINA
Harga: Rp 86, 000, 000.-

Negara Asal: China
Harga: CALL
Cara Pembayaran: Transfer Bank (T/T), Tunai
Jumlah: TAK TERBATAS
Kemas & Pengiriman: UNIT
Korespondensi Perusahaan
Nama: Tn. TRI HARTONO [Pemilik/Pengusaha]
E-mail: pratec32@yahoo.co.id
Nomer HP: 0856 2835 478, 021-3397 6377
Nomer Telpon: 021-33976377, 08562835478
Alamat: Jl. Raya Pilar Sukatani Cikarang Utara
Cikarang, Bekasi 17535, Jawa Barat
Indonesia

TIPS MEMILIH ALAT KESEHATAN

“Banyaknya varian alat kesehatan yang beredar dipasaran menjadikan para konsumen mudah memilih sekaligus harus berhati-hati dan selektif. peralatan kesehatan bisa digolongkan kedalam dua golongan :

1. alat kesehatan untuk kalangan terbatas ( rumahsakit, profesi kesehatan) yang dibutuhkan kemampuan khusus dalam pengoperasiannya.
contoh : Ultrasonografi (USG), X-Ray, dll

.
2. Alat kesehatan untuk masyarakat awam ( pribadi, rumah tangga, dll) biasanya tidak dibutuhkan ketrampilan khusus dalam pengoperasiannya.
Contoh: kursi roda, termometer, dll.

Bagi masyarakat awam diluar profesi kesehatan, ada beberapa tips dalam memilih alat kesehatan, antara lain :
1. Tentukan tujuan dan fungsi dari pembelian alat kesehatan, sebaiknya konsultasi terlebih dahulu dengan petugas kesehatan, agar alat kesehatan yang kita beli tidak sia sia.
2. Cari informasi selengkap mungkin perihal alat yang akan kita beli.Informasi bisakita dapatkan dari media masa, atau orang yang pernah menggunakan alat sejenis

.
3. Memilih merk alat kesehatan. Mayoritas produk alat kesehatan yang resmi sudah terstandarisasi depkes. tinggal melihat kemampuan keuangan kita. Produksi cina relatif jauh lebih murah dibanding produk Eropa,Amerika dan jepang. Dan kualitasnyapun jelas lebih rendah karena menyangkut teknologi, material,dll

.
4. Setelah anda memilih, sebaiknya tanyakan kepada penjualnya perihal garansi, cara operasional alat, cara perawatan, seluk beluk lainnya.

Sebenarnya tips tersebut hampir mirip dengan tips kalau kita memilih barang keperluan sehari hari, tetapi karena alat kesehatan berkaitan langsung dengan keselamatan seseorang, maka kita juga harus lebih berhati-hati.

====================================================

Selasa, 3 Agustus 2010 00:06 WIB

Kupang (ANTARA News) –

Pengadaan alat kesehatan (alkes) pada rumah sakit tipe C milik Pemerintah Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga bermasalah karena tidak sesuai dengan standar mutu yang diharapkan.

Direktur RSU Kota Kupang, dr. Frans C. Homalessy, Sp.AN, di Kupang, Senin mengatakan, sejumlah alat kesehatan yang diperlukan untuk menjadi fasilitas pelayanan kesehatan di rumah sakit nonkelas tersebut, diduga tidak memiliki standar mutu sesuai yang diharapkan, karena merupakan barang produk China.

Dia mengatakan, sejumlah alat kesehatan yang hingga kini belum bisa digunakan kendati rumah sakit yang dibangun untuk memberikan pelayanan bagi pasien warga miskin Kota Kupang itu sudah memulai dengan pelayanan kesehatan rawat jalan, adalah merupakan proyek pengadaan tahun 2009 dengan anggaran sekitar Rp5 miliar.

“Semua alat itu belum bisa kita gunakan di rumah sakit yang sudah memulai pelayanan kesehatan, karena masih dalam masa penyelidikan oleh pihak Insepktorat Daerah Kota Kupang,” kata dia.

Menurut dia, alat-alat kesehatan yang memiliki kualifikasi baik, hanya bisa diperoleh jika alat tersebut merupakan produksi perusahaan yang berasal dari negara Amerika Serikat, Jerman atau negara-negara Eropa lainnya. Sedangkan jika alat-alat kesehatan itu merupakan produksi China, maka kualitasnya sangat berbeda dan jauh dari standar mutu yang diharapkan.

“Saya punya pengalaman di RSU Prof. Dr.WZ Johannes Kupang, alat-alat produksi China biasanya hanya berumur setahun pemakaian, jika dibanding produksi dari negara-negara lainnya. Jika demikian maka sangat merugikan keuangan daerah,” kata mantan staf dokter pada RSU Prof. Dr. WZ Johannes, milik Pemerintah Provinsi NTT itu.

Dia mengakui, sejumlah alat tersebut, saat ini masih belum bisa digunakan karena masih dalam pemeriksaan Inspektorat Darah Kota Kupang, untuk menyesuaikan sepesifikasi alat dengan jumlah barang, harga serta mutu dan kualitas sebagaiman yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Wali Kota Kupang, Daniel Adoe, mengaku sedang melakukan penyelidikan terhadap masalah pengadaan alat kesehatan tersebut melalui Inspektorat Daerah (Irda), untuk mendapatkan kebenaran dari persoalan tersebut.

“Saya sudah perintahkan Irda untuk lakukan investigasi terhadap dugaan penyimpangan tersebut,” kata Adoe.

Kepala Inspektur Daerah Kota Kupang, George Orzon Taulo, mengaku, pihaknya kini sedang melakukan pemerikasaan terhadap sejumlah alat kesehatan pada rumah sakit tipe C milik Pemerintah Kota Kupang tersebut.

“Kita sedang lakukan pemeriksaan. Kita harapkan bisa segera selesai untuk bisa mendapatkan hasil yang sebenarnya,” kata Taulo.

Hematology  Analyzer dan  Alat Kimia Klinik  produksi  China dan India relatif jauh lebih murah dibandingkan produk Amerika, eropa dan Jepang  akan tetapi kualitas nya pun jelas lebih rendah karena menyangkut teknologi, material dll

Mengacu kepada Surat Edaran Inspektur Jenderal Departemen Kesehatan RI Nomor 01T.PS.20.01.214.06.458a tanggal 25 April 2006 perihal Pengadaan Alat Kesehatan, produk buatan China seperti ”Hematology Analyzer” dan ”Refrigerator” hanya diberikan poin maksimal sebesar 25, jadi nilai teknis bukan 38

============================================

AMP merupakan sebuah pabrik rakitan rumah tangga… Lisensi tidak menjamin pembuktian kualitas…

AMP Austria hanya memproduksi REAGEN kontrol tanpa memproduksi  kalibrator

Katalog Produk: Hematology Analyzer

Merk : AMP Accos 319 alias Mindray BC 3000 China

Pada tahun 2007  harga 1 unit AMP Accos 319 adalah rp. 60 sampai  rp. 70 juta ( tergantung negosiasi )

Pada tahun 2011 harga 1 unit AMP Accos 319 adalah rp. 80 an juta

AMP  Accos  319  merupakan  hematology analyzer produksi China tetapi  berlabel  Eropa, dalam artian barang ini di buat di China tetapi  memiliki  lisensi  Austria

AMP  Accos  319  Austria  adalah  sama saja dengan  Mindray  BC 3000 PLUS China, hanya beda pada label

Perusahaan AMP Austria membeli barang dari Mindray China (Mindray  BC 3000 PLUS)  lalu dengan  membuat  lisensi  baru mereka menjual dengan merk “AMP  ACCOS 319  Austria” seolah olah barang ini buatan Eropa, ini demi bisnis semata

Daya tahan AMP ACCOS 319 biasanya cuma enam bulan, kualitas alat ini rendah karena komponen elektronik lemah, memakai komponen komponen murah agar bisa dijual murah

misal :

Semen 1 : 2 maka rumah kokoh

Semen 1 : 10 maka rumah mudah roboh…

AMP memiliki sindikat diseluruh dunia….

Setelah sekian bulan, semua komponen akan berada dalam keadaan longgar, semua tubing akan tersumbat kristal bahkan ada yang berkarat, kalaupun di sevice dan dilakukan kontrol serta kalibrasi maka hanya akan berjalan normal sebentar lalu macet lagi karena memang dasar alatnya jelek

AMP ACCOS 319 jarang ada lab yang mau pakai, tetapi disukai oleh pelaku  mark up proyek karena unggul di harga (pricing)… Sangat sedikit di pakai di lab kecuali analis nya tertipu dengan label Austria… Lisensi tidak menjamin pembuktian kualitas

Jangan terpengaruh dengan lisensi  AMP, karena AMP ACCOS 319 dan AMP Piccos 05 merupakan dua buah “produk gagal” dari AMP

Kuvet Hb alat ini berkualitas rendah, sedangkan parameter lain memakai  metode impedansi..

Sistem pembersihan alat ini tidak bagus dan tidak bersih.. Semakin tua alat maka semakin tidak bagus karena semakin lama sistem pembersihan semakin berkurang

Jika sistem alat tidak besih maka sisa sisa komponen darah melekat (sisa sisa bekas sampel) sehingga pembacaan tidak benar.. Jika ada yang kotor di internal  walaupun dicuci betul betul maka akan kambuh lagi karena sumbernya tidak ketemu…

Alkes China penyimpangan standar deviasi dan koevisien variasi nya melenceng cukup jauh, ring terlalu besar, mestinya kecil

Tidak memiliki standar mutu sesuai yang diharapkan, karena merupakan barang produk China, bermasalah karena tidak sesuai dengan standar mutu yang diharapkan.

alat-alat kesehatan yang memiliki kualifikasi baik, hanya bisa diperoleh jika alat tersebut merupakan produksi perusahaan yang berasal dari negara Amerika Serikat, Jerman atau negara-negara Eropa lainnya. Sedangkan jika alat-alat kesehatan itu merupakan produksi China, maka kualitasnya sangat berbeda dan jauh dari standar mutu yang diharapkan.

Direktur RSU Kota Kupang, dr. Frans C. Homalessy, Sp.AN punya pengalaman di RSU Prof. Dr.WZ Johannes Kupang, alat-alat produksi China biasanya hanya berumur setahun pemakaian, jika dibanding produksi dari negara-negara lainnya. Jika demikian maka sangat merugikan keuangan daerah

Hematology  Analyzer dan  Alat Kimia Klinik  produksi  China dan India relatif jauh lebih murah dibandingkan produk Amerika, eropa dan Jepang  akan tetapi kualitas nya pun jelas lebih rendah karena menyangkut teknologi, material dll

Mengacu kepada Surat Edaran Inspektur Jenderal Departemen Kesehatan RI Nomor 01T.PS.20.01.214.06.458a tanggal 25 April 2006 perihal Pengadaan Alat Kesehatan, produk buatan China seperti ”Hematology Analyzer” dan ”Refrigerator” hanya diberikan poin maksimal sebesar 25, jadi nilai teknis bukan 38

Kelemahan Hematology Analyzer China adalah ketahanan, kehandalan dan hasilnya lemah

Secara umum Quality Control, Quality Manajemen, QA, Consumable Cost Rate/Test Hematology Analyzer China masih jauh dibawah produk Jepang, Amerika Serikat dan Eropa

reagents AMP  ACCOS  319
Control dan Calibrator AMP  ACCOS 319
Korespondensi Perusahaan
Nama: Tn. Setiyo Raharjo [Pemasaran]
Nomer HP: 0817-8204200813-826055990857 1771 5002021 6866 8837
Nomer Telpon: 021 – 88978246,85423522,68291155
Nomer Faks: 021 – 88978246
Alamat: PUP sektor V Blok D5 No.26
Bekasi, Jawa Barat
Indonesiaweb : http://setiawijaya.indonetwork.co.id/2212454/hematology-analyzer.htm

Katalog Produk: HEMATOLOGY ANALYZER

Harga: MURAH..NEGO
Cara Pembayaran: Tunai
Kemas & Pengiriman: UNIT
Keterangan: Kami menyediakan alat Hematology Analyzer dengan merek :
– READY HEM 323
– ACCOS 319
– RAYTO 7600
– MICROS 60
– MINDRAY 2800
– Advia 60
– MOLET
.
Kami menyediakan alat Hematology Analyzer dengan merek :
– Accos 05
– Mindray
– Ready Hem 323
– Micros 60
– Pentra 60
– Lab Nova ( Reagent Hematology
—————————————————————————————
AMP Accos 319 juga di distribusikan juga oleh : PT. Tirta Medical Indonesia.

http://www.tirtamedicalindonesia.com/

Jika Anda mengalami masalah dan pertanyaan tentang produk PT. Tirta, silakan hubungi PT. Tirta  Medan

Alamat baru kami :

PT. Tirta Medical Indonesia
Perum Ray Pendopo 5 No. 1
Jl. Setia Budi Pasar I.
Telp (061) 8219933
Fax. (061) 8219977, Medan
Email. sarfuddin.tirta@indosat.net.id.

————————————-

Adapun alamat lama kami  pada tahun 2007  yaitu di :

PT. Tirta Medical Indonesia.Jl. Kertas No. 44 Ayahanda
Telp. (061) 4519933
Fax. (061) 4516667
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

e-mail admin@tirtamedicalindonesia.com

dinyatakan sudah tidak berlaku lagi…

—————————————–

Produk lain PT. Tirta Medical Indonesia yang berkualitas rendah  seharga rp. 18 juta

http://www.tirtamedicalindonesia.com/products/detail/?id=32&nm=amp_piccos_05

Diagnostic – AMP – Photometer
AMP Piccos 05

AMP Piccos 05 is a semi-automated clinical chemistry analyzer utilizing modern technologies for simple, effcient and accurate performance of any photometric clinical chemistry analysis
.
A logically structured software menu, clear operating instructions presented on the graphic colour screen, a multiplicity of pre-defined test protocols and enchaned data management facilities are making AMP Piccos 05 a powerful, but nevertheless easily usable assistant in the clinical chemistry laboratoty
.
AMP Piccos harga dasarnya rp. 18 juta, ini merupakan barang rakitan rumah tangga, enam bulan pakai  lalu rusak  padahal filter standar mahal dan jarang ada di pasaran… Di sejumlah tempat alat ini bermasalah dalam waktu cepat