produk tensimeter kita diekspor ke Jerman untuk dikasih merek asing lalu masuk lagi ke pasar domestik sebagai produk impor. Ini sangat lucu

dikutip dari : http://www.ipmg-online.com/index.php?modul=berita&cat=BMedia&textid=283310275423

Berita
Alat kesehatan impor dominasi pasar
Yusuf Waluyo Jati, Bisnis Indonesia 16 Juli 2009
JAKARTA: Sebanyak 99% dari total omzet Rp25,74 triliun alat kesehatan (alkes) di pasar domestik pada tahun lalu dikuasai produk impor.

Penguasaan pasar dari industri lokal tidak lebih dari Rp260 miliar, atau hanya 1% dari total omzet.

Penguasaan pangsa pasar lokal yang nyaris nol itu ternyata berlangsung konsisten setidaknya dalam 5 tahun terakhir. Akibatnya, kinerja industri peralatan kesehatan lokal hampir tidak mengalami pertumbuhan. Dalam kurun waktu tersebut, nyaris tidak ada tambahan investasi di sektor ini.
“Beberapa investor asing yang sudah terlanjur menanamkan modalnya bahkan memilih hengkang atau beralih usaha menjadi importir karena iklim bisnis di dalam negeri dinilai sangat tidak kondusif,” kata Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) Indonesia Titah Sihdjati Riadhie, kemarin.

Menurut dia, besarnya nilai impor itu disebabkan oleh pemerintah tidak memberikan dukungan terhadap pertumbuhan industri di dalam negeri. Dia mengungkapkan dari total pasar alat kesehatan domestik, sekitar 80% di antaranya berasal dari belanja pemerintah (government procurement), selebihnya dari sektor swasta.

“Besarnya belanja pemerintah membuat industri peralatan kesehatan memiliki ketergantungan yang besar sehingga cenderung didikte. Pada saat yang sama, Departemen Kesehatan lebih mengutamakan menggunakan produk impor,” ujarnya.

Dari sekitar 1.500 perusahaan anggota Gakeslab, katanya, hanya 5% [75 anggota] yang memiliki pabrik sendiri dan hanya 1% anggota yang punya pabrik berbasis elektronik,” ungkapnya.

Kesulitan menggarap pasar domestik menyebabkan industri lokal berupaya mencari peluang di pasar ekspor. Sejauh ini, katanya, Indonesia hanya bisa mengekspor alat kesehatan berbasis nonelektrik seperti tensimeter, stetoskop, dan furnitur kesehatan seperti tempat tidur dan kasur.

Pada tahun ini, industri lokal telah mampu memproduksi alat kesehatan berbasis elektrik, tetapi baru berupa infant incubator, dental unit, dan wheel chair electric, yang teknologinya relatif sederhana.

“Ironisnya, produk tensimeter kita diekspor ke Jerman untuk dikasih merek asing lalu masuk lagi ke pasar domestik sebagai produk impor. Ini sangat lucu,” ujarnya.

Tidak berpihak

Titah menilai keberpihakan dan perhatian Depkes terhadap pengembangan industri peralatan kesehatan domestik sangat rendah terutama dalam hal penyerapan produk lokal, perizinan, sertifikasi, dan standar mutu.

Dari komposisi tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang dipersyaratkan sebesar 40%, ungkapnya, PT Surveyor dan Departemen Perindustrian menyatakan beberapa perusahaan peralatan kesehatan lokal telah memiliki kandungan komponen lokal hingga 57%.

Sayangnya, syarat TKDN ini tidak digubris oleh Depkes dalam setiap tender pengadaan barang dan jasa di bidang kesehatan. “Mereka semaunya sendiri. Meskipun sudah ada Peraturan Presiden (PP) No. 2/2009 tentang TKDN, mereka tidak mau tahu dan tetap memilih produk impor. Jadi, komitmen antiasing yang dikatakan Bu Menkes [Siti Fadilah Supari] ternyata hanya sebatas slogan,” paparnya.

Ketika dikonfirmasi Menkes Siti Fadilah Supari membantah instansinya tidak memprioritaskan industri lokal dalam setiap pengadaan barang dan jasa alat-alat kesehatan. “Ya tidak mungkin,” tulis Menkes dalam pesan singkatnya kepada Bisnis.

Malahan, lanjut Titah, berdasarkan penelusuran Gakeslab, Depkes hingga sekarang masih mengizinkan importasi alat-alat kesehatan bekas dari Amerika Serikat, Belanda dan negara-negara di kawasan Uni Eropa.

“Seluruh rumah sakit terkenal di Indonesia kami pastikan tidak ada yang tidak menggunakan alat kesehatan bekas,” ungkapnya.

Di luar negeri, katanya, alat-alat bekas tersebut sudah dipakai sekitar 5 tahun. Barang tersebut direkondisi sebelum diekspor ke Indonesia.

Terkait dengan hal ini, Menkes berdalih selama masa kepemimpinannya, Depkes tidak pernah memberikan izin impor peralatan kesehatan bekas. “Tidak pernah tuh selama saya di sini [Depkes],” katanya.

Titah menambahkan besarnya impor dan kecilnya penguasaan industri peralatan kesehatan lokal, mengakibatkan penetapan harga dalam setiap tender tidak transparan. “Ada beberapa pejabat Depkes yang justru masih suka main dropping barang dari China. Dalihnya sih sebagaigrant [hibah], tetapi masih ada bukti nota yang diteken,” katanya.

Rendahnya produksi, lanjutnya, menyebabkan struktur industri peralatan kesehatan sangat lemah dan tidak mampu bersaing dengan barang impor. Beberapa perusahaan anggota Gakeslab seperti PT MARK (produsen tempat tidur kesehatan di Yogyakarta) dan PT Trovi Rajawali (PMA asal Prancis) bahkan akhirnya menutup usahanya. “Di antara mereka ada yang beralih bisnis sepeda motor,” katanya. (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

 

About katalogampaccos
katalogampaccos319

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: